Westerling Memburu Tarigan

Oleh Joey Bangun

Siapa yang tidak kenal Raymond Westerling. Sosok ini telah menggoreskan tinta merah dalam sejarah Indonesia. Aksi kekerasan yang paling dikenal adalah di Sulawesi Selatan pada periode 1946-1947 yang mengakibatkan 3.500 orang tewas. Dalam sumber lain kekejaman Westerling di Indonesia telah memakan korban hingga 40.000 orang. Belum lagi perlakukannya di Cikampek dan Bandung dengan memimpin Angkatan Perang Ratu Adil yang ingin mengkudeta pemerintahan Soekarno namun gagal. Ternyata dibalik keberingasan yang dilakukannya di Jawa dan Sulawesi, Westerling juga pernah menorehkan tinta merah saat mendarat di Medan. Kota Medan menjadi tempat pertama bagi Westerling menjejakkan kakinya di Indonesia.

Bernama lengkap Raymond Paul Pierre Westerling lahir di Istanbul, Turki, pada 31 Agustus 1919 dari ayah bernama Paul Westerling seorang Belanda dan ibu Sophia Moutzhou seorang Yunani. Karena lahir di Turki teman-teman memanggilnya dengan nama De Turk atau si Turki. Westerling termasuk dalam 48 orang Belanda sebagai angkatan pertama yang memperoleh latihan khusus di Commando Basic Training Centre di Achnacarry, di Pantai Skotlandia. Semua orang Belanda di sini disiapkan khusus untuk menjadi komandan tentara Belanda.

Setelah Pemboman Hiroshima dan Nagasaki lalu Jepang mengaku kalah, Sekutu cepat mengambil tindakan. Seorang perwira Angkatan Laut Belanda Letnan Brondgeest dan seorang kawannya tiba di Medan pada tanggal 25 Agustus 1945. Ketika itu berita Proklamasi belum sampai ke Medan. Brondgeest diperintahkan untuk membebaskan Tahanan Eropa di Medan sekaligus menyiapkan kedatangan pasukan Sekutu di kota ini.

Suasana kota Medan saat itu kacau balau. Kota ini seolah tidak punya pimpinan. Jepang sudah lepas tangan memimpin kota Medan. Penjarahan dan perampokan terjadi dimana-mana. Terutama di toko-toko Tionghoa yang dianggap pro Belanda.

Letnan Westerling sudah dipersiapkan keberangkatannya untuk menyusul Brondgeest ke Medan. Tanggal 14 September 1945 Westerling sudah tiba di Kota Medan dengan mendarat di lapangan terbang Polonia. Dia datang dengan 200 Pasukan dengan persenjataan lengkap. Setiba di Medan, Westerling langsung memilih Hotel De Boer (Hotel Dharma Deli) sebagai markasnya.

Sebelum kedatangan sekutu, Westerling mengamankan kota Medan dengan cara kekerasan. Dia turut mengamankan toko-toko Tionghoa yang pro Belanda dari penjarahan orang-orang yang dianggap teroris. Belanda memang sengaja menempatkan Westerling yang punya keahlian militer agar situasi kota Medan aman terkendali sebelum kedatangan tentara Sekutu.

Tanggal 10 Oktober 1945 tentara Sekutu – Inggris dari Divisi India ke-26 di bawah pimpinan Brigadir T.E.D. Kelly mendarat di Pelabuhan Belawan. Mereka ditugaskan mengurus bekas tawanan perang di negara yang menjadi bagian dari Sekutu. Mereka juga melucuti tentara Jepang dan memulangkannya ke negara asal mereka. Suasana tegang menyelimuti Kota Medan setelah datangnya Tentara Sekutu ini.                         

Setelah Sekutu tiba di Medan, Westerling mengira tugasnya telah selesai dan akan segera meninggalkan Medan. Namun pimpinan tentara Sekutu Brigadir T.E.D Kelly tidak setuju Westerling pergi, Kelly meminta Westerling untuk tetap di Medan membantu Sekutu. Akibat permintaan Kelly, aksi kekerasan Westerling berlanjut di kota Medan. 

Tiga hari setelah kedatangan Sekutu, terjadilah “Peristiwa Jalan Bali” (Jalan Veteran Sekarang). Seorang pemuda Indonesia bernama Abdul Wahid Marbun lewat di depan Pension Wilhemina dengan mengenakan Lencana Merah Putih. Pasukan NICA yang bermarkas di tempat itu memberhentikan Wahid Marbun. Mereka lalu melepaskan Lencana Merah Putih yang dikenakannya dan bahkan menyuruh menelan Lencana itu. Wahid menolaknya kemudian melarikan diri dan melaporkannya kepada para pemuda seperti F. Hutapea dan Abdul Manaf Lubis. Inilah awal terjadi pertempuran di kota Medan.

Baca Juga  Pahlawan Nasional Sumatera Utara

Tanggal 13 Oktober 1945, Pension Wilhemina markas tentara NICA diserang ratusan Laskar Pejuang, pemuda dan Pedagang Pusat Pasar. Saat terjadi penyerbuan tiba-tiba datang sebuah mobil Jip yang melaju kencang ditumpangi oleh dua orang Belanda melepaskan dua tembakan pistol ke tengah kerumunan dengan membabi buta. Seorang Indonesia tewas akibat tembakan yang dilepaskan oleh kedua orang Belanda itu. Ternyata salah seorang yang melepaskan tembakan dari mobil Jip tersebut adalah Westerling. Pemuda yang tewas itu berasal dari suku Karo. Dalam peristiwa jalan Bali, beberapa orang tewas dan puluhan luka-luka baik dari pihak Belanda dan Republik. Peristiwa inilah memicu Perang Medan Area.

Westerling dalam memoarnya menyebut satu nama yang paling meresahkan.  Nama pengacau itu Terakan. Mungkin karena logat Belanda-nya hingga ejaannya agak berbeda dari aslinya. Namun yang dimaksud Westerling adalah Tarigan. Dari marganya jelas berasal dari suku Karo. Tarigan terkenal sebagai bandit eksterimis yang sangat diincar Sekutu dan juga Westerling ketika itu.

Tarigan sering melakukan perdagangan gelap hasil-hasil perkebunan ke Singapura dan menukarnya dengan senjata untuk membantu Laskar-laskar pejuang. Tindakan Tarigan ini membuat Sekutu kewalahan. Sekutu atau Inggris sudah berusaha berkali-kali menangkap Tarigan tapi tidak pernah berhasil. Markas Tarigan tidak jauh dari Medan. Persembunyiannya terletak di tengah hutan dan rawa yang sulit dijangkau pasukan Sekutu. Markasnya juga siang malam dijaga anak buah Tarigan.

Saat yang ditunggu Westerling tiba. Dalam sebuah jamuan makan malam seorang perwira Inggris berpangkat Mayor menawarkan Westerling untuk menangkap Tarigan. Mayor itu berjanji akan memberikan sebotol Scotch (Wiski Skotlandia) bermerk “Black and White” jika Westerling sanggup menangkap pemuda itu. Westerling santai dan menjawab, “Berikan aku waktu 1×24 jam, aku akan menangkap si Brengsek itu.” Perwira Inggris itu tertawa tidak percaya. Westerling tidak menggubris kesangsian Mayor itu. Pukul 9 malam itu juga Westerling bergerak memburu Tarigan.

Westerling lalu  mengajak 2 anak buahnya yang selama ini menjadi mata-mata. Mata-mata itu seorang bersuku Batak dan seorang lagi orang India. Mereka membekali diri dengan pisau belati, sebotol kloroform dan borgol. Pistol dan granat juga disiapkan untuk berjaga-jaga. Untuk menyamarkan diri, Westerling dan anak buahnya mengenakan pakaian serba hitam dan wajah dilumuri arang.

Markas persembunyian Tarigan berjarak 6,5 km dari kota Medan. Mereka mengambil jalan pintas melalui rawa-rawa menuju persembunyian Tarigan. Mereka melakukan ini agar terhindar dari penjagaan anak buah Tarigan. Pada pukul 01.00 dini hari Westerling tiba di depan gubuk yang menjadi markas Tarigan. Dengan cepat dia melumpuhkan 3 orang penjaga markas itu dan membuang mayatnya ke sungai. Westerling memasuki Gubuk itu sementara kedua anak buahnya menjaga diluar.

Tarigan ternyata sedang tertidur pulas. Westerling lantas menyiramkan kloroform ke kain dan menekannya ke hidung dan mulut Tarigan. Tarigan sempat meronta tapi langsung pingsan. Westerling bersama anak buahnya menggotong Tarigan ke kantornya untuk di interogasi.

Tarigan didudukkan di sebuah kursi dengan kaki dan tangan terikat. Westerling menunggu Tarigan siuman. Sementara itu orang India anak buah Westerling berdiri di samping Tarigan dengan pedang teracung. Efek kloroform yang mulai menghilang membuat kesadaran Tarigan perlahan kembali. Tersadar kalau dia dalam bahaya, Tarigan mencoba berlari menerjang ke arah Westerling. Namun anak buah Westerling dengan sigap bereaksi melayangkan pedangnya.

Baca Juga  Sekilas Perang Sunggal

Mereka memenggal kepala Tarigan. Dengan santai Westerling memungut kepala itu dan mengemasnya dengan daun pisang dan menyimpannya ke dalam kaleng biskuit. Kurang dari 24 jam, Westerling menyerahkan kepala Tarigan kepada Mayor Inggris dalam jamuan makan malam di Hotel de Boer. Seketika itu pula nafsu makan Mayor itu hilang. Westerling pun memenangkan sebotol wiski Skotch dari Mayor Inggris itu karena membawa kepala Tarigan.

Keesokan harinya Westerling mendatangi lagi kampung tempat tinggal Tarigan. Bersama anak buahnya Westerling memasang pasak di tengah kampung. Di atasnya kepala Tarigan ditancapkan sementara di bagian bawah tertulis peringatan bagi para anak buah Tarigan.

Aksi Westerling di Medan sangat brutal. Dia membuat shock therapy kepada para Gerilyawan Pejuang yang dianggap eksterimis. Contohnya dia pernah memenggal seorang gerilyawan dan kepalanya dipamerkan di trotoar masjid Sultan Deli. Tujuannya agar para pejuang kemerdekaan ketakutan.

Westerling dan anak buahnya juga pernah menyiksa seorang Tionghoa yang dituduh memetakan Camp Pertahanan Tentara Sekutu. Akibat penyiksaan selama 3 hari itu Westerling dan anak buahnya diperingatkan dan menjadi tahanan rumah serta tidak boleh lagi memakai seragam Inggris.

Saat itu orang-orang Tionghoa kerap menjadi sasaran penjarahan dan perampokan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Penjarahan dan perampokan ini dilakukan oleh sekelompok preman bernama “Cap Kampak” pimpinan Amat Boyan. Sepak terjang Amat Boyan bisa disaksikan di video Sejarah Preman Medan di channel Youtube ini.

Orang-orang Tionghoa yang merasa terusik meminta perlindungan Sekutu dan Belanda. Saat itu pula Westerling menginisiasi membentuk organisasi tandingan untuk kalangan Tionghoa yaitu Chinese Security Corps atau yang lebih dikenal dengan nama Pao An Tui. Organisasi ini mempunyai tugas untuk menjaga keluarga-keluarga Tionghoa dari gerakan-gerakan yang dilancarkan oleh Laskar Rakyat. Para Pejuang Gerilyawan kini mendapat tambahan musuh baru tidak saja Sekutu dan Belanda yang sudah menduduki kota Medan tetapi juga kalangan Tionghoa yang pro Belanda.

Setelah tugas Sekutu Inggris selesai dalam menjaga keamanan dan ketertiban dalam pemulangan tentara Jepang, maka mulai tahun 1946 pihak Belanda mulai diturunkan di Kota Medan dengan misi menciptakan perdamaian dan pembangunan masyarakat. Kehadiran Belanda itu pula yang memicu konflik dan peperangan di segala penjuru Sumatera Utara.

Pada tanggal 23 Juli 1946 Westerling dipindahkan dari Satuan Intelijen ke Satuan Komando. Pemindahan itu sekaligus mengakhiri masa tugas Westerling di Medan. Di bulan Juli itu pula Westerling meninggalkan kota Medan untuk bergabung dengan pasukan KNIL di Jakarta. Dari Jakarta Westerling melanjutkan pertualangan sadisnya, salah satunya pembunuhan massal di Makassar dan pembentukan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) untuk menggulingkan Presiden Soekarno.

Westerling hanya beberapa bulan tinggal di kota Medan. Namun jejak berdarahnya menyisakan kepahitan dalam perjuangan revolusi di kota ini.

SUMBER SEJARAH

Aksi Kekerasan Westerling di Kota Medan – Yandi Syaputra Hasibuan

nederlandsekrijgsmacht.nl

Deli Courant, 1952, Medan

Historia.id

Tirto.id

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published.