Sejarah Kemerdekaan di Kota Medan

KutaKita – Menurut sejarah Kota Medan yang dikenal sebagai Tanah Deli menjadi daerah strategis oleh Belanda untuk membuka bisnis, terutama produksi Tembakau. Penjajahan Belanda yang tercatat selama 350 tahun di bumi Nusantara. Namun di Medan pendudukan Belanda tercatat hanya 78 tahun mulai dari 1864 hingga 1942.

Awal pendudukan Belanda ini diawali dengan peristiwa yang terjadi pada Kerajaan Siak Sri Inderapura di Riau. Kerajaan itu diserang oleh militer Inggris yang dipimpin oleh Adam Wilson. Merasa terdesak karena kekuatan terbatas Siak meminta bantuan kepada Belanda. Sejak itu pula terbukalah peluang Belanda untuk menduduki kerajaan Siak. Belanda mendesak Sultan Ismail Raja Siak untuk menandatangani perjanjian agar daerah kekuasaan Siak termasuk Deli, Langkat dan Serdang juga dibawah kekuasaan Belanda.

Pada tahun 1858 Elisa Netscher diangkat menjadi Residen Wilayah Riau dan sejak itu dia mengangkat dirinya menjadi pembela Sultan Ismail yang berkuasa di kerajaan Siak. Tanggal 2 Agustus 1862 dengan menggunakan kapal Reinier Classen Residen Riau Elisa Netscher bersama pembesar-pembesar Siak berangkat ke Sumatera Timur.

Tanggal 21 Agustus rombongan Netscher tiba di kuala Sungai Deli. Kedatangannya disambut Sultan Deli Mahmud Perkasa Alam. Pada pertemuan itu Sultan Deli menjelaskan kepada Netscher bahwa Deli bukan daerah kekuasaan Siak. Jadi apa yang terjadi di Siak tidak bisa disamakan dengan Deli. Namun Netscher berhasil membujuk sang Sultan. Dia katakan Siak dan Deli adalah sama. Sama-sama bernaung pada Hindia Belanda dibawah bendera Sumatera Timur. Mulai saat itu pula Deli dibawah kekuasaan Belanda. Terlebih Belanda menawarkan janji-janji menggiurkan yang tidak bisa ditolak Sultan.

Sejak pendudukan Belanda, perkampungan Medan yang dibawah kekuasaan Deli berkembang pesat. Perkembangan ini pula yang menjadikannya menjadi pusat pemerintahan. Tahun 1879 ibukota Asisten Residen Deli dipindahkan dari Labuhan ke Medan. Pada tanggal  1 Maret 1887 Ibukota Residen Sumatera Timur dipindahkan pula dari Bengkalis Kerajaan Siak ke Medan. Istana Kesultanan Deli yang awalnya berada di Kampung Bahari (Labuhan) juga dipindahkan ke Medan bertepatan dengan selesainya pembangunan Istana Maimoon pada tanggal 18 Mei 1891. Mulai saat itu Ibukota Kerajaan Deli telah resmi pindah ke Medan.

Pada tahun 1915 Residens Sumatera Timur ditingkatkan kedudukannya menjadi Gubernemen. Tahun 1918 Kota Medan resmi menjadi Gemeente (Kota Praja) dengan Walikota Baron Daniel Mac Kay. Pada masa awal Kotapraja ini, Medan masih terdiri dari 4 kampung, yaitu Kampung Kesawan, Kampung Sungai Rengas, Kampung Petisah Hulu dan Kampung Petisah Hilir. Sejak itu Kota Medan berkembang semakin pesat.

Seorang Arab Surabaya bernama Said Abdullah Bilsagih saudara ipar Sultan Deli Mahmud Perkasa Alam mengajak beberapa pedagang Belanda di Jawa untuk menanam tembakau di Deli. Jacob Nienhuys, Van der Falk, dan Elliot, pedagang tembakau asal Belanda mempelopori pembukaan kebun tembakau di Tanah Deli.

Nienhuys pertama kali berkebun tembakau di tanah milik Sultan Deli seluas 4.000 Bahu di Tanjung Sepassai, dekat Labuhan. Nienhuys mengirim contoh tembakau hasil kebunnya ke Rotterdam, Belanda untuk diuji kualitasnya. Ternyata daun tembakau itu dianggap berkualitas tinggi untuk bahan cerutu. Melambunglah nama Deli di Eropa sebagai penghasil cerutu terbaik.

Perjanjian tembakau ditandatangani oleh Belanda dengan Sultan Deli pada tahun 1865. Berselang dua tahun, Nienhuys bersama Jannsen, P.W. Clemen, dan Cremer mendirikan perusahaan De Deli Maatschappij yang disingkat Deli Mij di Labuhan.

Sejak saat itu dibukalah kebun-kebun tembakau baru di Martubung, Sunggal, Sungai Beras dan Kelumpang. Kebun tembakau itu semakin luas. Maka perusahaan tembakau Deli ini mengontrak Kuli-kuli orang Cina yang didatangkan dari Swatow Tiongkok, Singapura dan Malaysia. Termasuk kuli-kuli India yang berasal dari Penang Malaysia.

Belanda menganggap kuli-kuli pribumi yang umumnya orang Karo dan Melayu sangat malas dan pemberontak. Karena pemerintah Tiongkok dan India mempersulit syarat kedatangan kuli-kuli asal negara mereka, maka Belanda berinisiatif  mendatangkan kuli kontrak dari Jawa.

Pada tahun 1869, Nienhuys memindahkan kantor pusat Deli Mij dari Labuhan ke Kampung Medan. Kantor baru itu dibangun di pinggir sungai Deli, tepatnya di kantor PTPN II sekarang. Dengan pindahnya kantor itu, Medan dengan cepat menjadi pusat aktivitas pemerintahan dan perdagangan, sekaligus menjadi daerah yang paling mendominasi perkembangan di Indonesia bagian barat.

Namun keberadaan perkebunan tembakau Deli ini bukan tanpa halangan. Tanah-tanah ulayat rakyat dirampas begitu saja oleh orang Belanda dan dijadikan perkebunan. Mereka beralasan sudah mendapat ijin dari Sultan Deli. Kemarahan pun meledak di kalangan masyarakat Melayu dan Karo si pemilik tanah. Perlawanan terjadi dimana-mana. Mereka membakar bangsal-bangsal tembaku milik Deli Mij. Mereka melakukannya di malam hari.

Perang Sunggal pecah. Perang ini dipimpin oleh Datuk Muhammad Kecil Surbakti yang didukung oleh laskar-laskar Karo dan Melayu. Awalnya perang ini terjadi karena kemarahan Datuk Sunggal dengan perlakuan semena-mena Sultan Deli merampas tanah ulayat mereka dan menyewakannya kepada Belanda. Mereka mengancam Sultan Deli dan menjaga hulu Sunggal agar Belanda tidak bisa masuk.

Sulong Barat keponakan Datuk Kecil, anak dari saudaranya Datuk Jalil mengumpulkan 1500 laskar dan membuat benteng di Timbang Langkat pada tahun 1872. Mereka mengancam Sultan Deli.

Merasa terancam, Sultan Deli meminta Belanda untuk melakukan ekspedisi Militer ke Sunggal. Perang pun berkobar. Pasukan Belanda dipukul mundur. Terlebih lagi rakyat Sunggal mendapat bantuan dari pasukan dari dataran tinggi Karo yang menyebut namanya Laskar Simbisa.

Tanggal 10 Juli 1872 datang lagi ekspedisi Militer Belanda ke II yang dipimpin oleh Letkol P.F Van Hombracht dari Batavia namun Belanda kalah. Tanggal 20 September 1872 didatangkan lagi Ekspedisi Militer ke IIII pimpinan Mayor H.W.C van Stuwe. Datuk Kecil berhasil ditangkap saat perundingan dengan Belanda dan dibuang ke Jawa.

Perjuangan dilanjutkan oleh penerus Datuk Sunggal Badiuzzaman Surbakti. Belanda mengajak Datuk Sunggal berdamai. Mereka mengundang sang Datuk ke Batavia untuk menegoisasikan perdamaian dengan Gubernur Jenderal Belanda. Dalam negoisasi itu Belanda akan memaafkan Badiuzzaman Surbakti jikalau dia mau bersujud dihadapan Gubernur Jenderal. Namun penawaran itu ditolak mentah-mentah. Akibatnya Datuk Sunggal ini ditangkap dan dihukum seumur hidup di Cianjur.

Tahun 1942 penjajahan Belanda berakhir saat Jepang datang. Kedatangan Jepang di Sumatera Timur diawali pendaratan tentara Jepang di Tanjung Tiram kawasan Batubara sekarang. Mereka menaiki sepeda yang mereka beli dari rakyat secara barter. Jepang bersemboyan bahwa mereka membantu orang Asia karena mereka adalah saudara tua orang-orang Asia. Kedatangan Jepang disambut meriah oleh masyarakat Sumatera Timur. Ketika peralihan kekuasaan Belanda kepada Jepang Kota Medan kacau balau. Orang pribumi mempergunakan kesempatan ini membalas dendam terhadap Belanda. Keadaan ini segera ditertibkan oleh tentara Jepang dengan mengerahkan pasukannya yang bernama Kempertai (Polisi Militer Jepang).

Masuknya Jepang di Kota Medan membuat keadaan langsung berubah. Terutama pemerintahan sipilnya. Zaman Belanda disebut gemeente oleh Jepang diubah menjadi Medan Sico (Pemerintahan Kotapraja).

Yang menjabat pemerintahan sipil di Kota Medan ketika itu hingga berakhirnya kekuasaan Jepang bernama Hoyasakhi. Untuk tingkat keresidenan di Sumatera Timur dijabat oleh Tetsuzo Nakashima.

Bukannya semakin baik malah penguasaan Jepang semakin merajalela di Kota Medan. Mereka membuat masyarakat semakin tidak berharga. Jepang ternyata menipu dengan semboyan saudara tua Asia.

Tahun 1945 di seluruh Indonesia bergema persiapan Proklamasi.  Demikian juga di Kota Medan, para tokoh pemudanya melakukan berbagai macam persiapan. Mereka mendengar bahwa bom atom telah jatuh di Kota Hiroshima dan Nagasaki. Jepang telah kalah.

Di kota Medan dan sekitarnya, penguasa Jepang yang sudah menyadari kekalahannya segera menghentikan segala kegiatannya.

Tanggal 17 Agustus 1945 gema kemerdekaan telah sampai ke kota Medan walupun dengan agak tersendat-sendat karena keadaan komunikasi pada waktu itu sangat sederhana sekali. Kantor Berita Jepang “Domei” yang sudah ada perwakilannya di Medan tidak mau menyiarkan berita kemerdekaan tersebut. Kabar kemerdekaan Indonesia di Medan baru sampai sepuluh hari kemudian yaitu tanggal 27 Agustus 1945.

Sekelompok kecil tentara Sekutu tepatnya tanggal 1 September 1945 yang dipimpin Letnan Brondgeest tiba di kota Medan dan berkantor di Hotel De Boer (sekarang Hotel Dharma Deli). Tugasnya adalah mempersiapkan pengambil alihan kekuasaan dari Jepang. Pada waktu itu pula tentara Belanda yang dipimpin oleh Westerling didampingi perwira penghubung sekutu bernama Mayor Yacobs dan Letnan Brondgeest berhasil membentuk kepolisian Belanda untuk Sumatera Timur yang anggotanya diambil dari eks KNIL dan Polisi Jepang yang pro Belanda. Satu aksi pasukan Westerling  yang beringas di Medan adalah menyiksa orang-orang Tionghoa yang dituduh memetakan markas Sekutu.

Kedatangan pasukan Sekutu yang diboncengi  NICA atau tentara Belanda membuat rakyat dan kaum pejuang di Sumatera Timur merasa terusik. Belanda mulai menunjukkan pergerakan yang mencurigakan.

Para pemuda di Medan pun segera mengambil sikap. Dimotori oleh Ahmad Tahir yang pernah bergabung dengan tentara sukarela (gyugun) pada masa pendudukan Jepang, dibentuklah Barisan Pemuda sebagai tindakan antisipasi. Barisan Pemuda di Medan punya ciri khas, yakni mengenakan lencana merah putih.

Suatu hari sejumlah tentara Belanda bertemu dengan seorang pemuda Indonesia yang memakai lencana merah putih. Pemuda itu dipaksa menginjak-injak dan menelan lencana itu.

Insiden inilah yang memicu pecahnya perang di Medan.  Pada tanggal 15 Oktober 1945 seorang pemuda berdarah Ambon pro Belanda menembak ke arah sekolah Timbang Galung yang dijaga barisan pemuda Indonesia. Pemuda Ambon itu dikejar hingga ke Siantar Hotel. Pengejaran itu mengakibatkan 5 orang Belanda dan 10 orang Ambon tewas. Selain itu, 17 pemuda orang Ambon dan 10 orang Belanda ditangkap.

Komandan Tentara Inggris di Medan, Brigadir TED Kelly, mengeluarkan maklumat agar rakyat Indonesia di Medan dilarang memiliki senjata, dan senjata yang ada harus diserahkan kepada tentara Sekutu. Tentu saja rakyat Medan tidak mematuhi aturan tersebut.

Tanggal 1 Desember 1945, tentara Sekutu membangun garis batas di sudut-sudut pinggiran kota Medan dan memasang papan-papan bertuliskan: Fixed Boundaries Medan Area. Dari sinilah muncul istilah Medan Area.

Hal ini membuat para pemuda Indonesia di Medan tertantang. Tanggal 6 Desember 1945 tentara Inggris menggeledah bioskop dan kantor Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) tanpa hasil apa-apa. Maka suasana kian memanas.

Empat hari kemudian, pada 10 Desember 1945, tentara Inggris dan Belanda bergerak keluar pusat kota Medan menuju Deli Tua. Di sana pasukan Republik yang dipimpin Abdul Karim harus berhadapan dengan pasukan Sekutu. Terjadilah peperangan lagi.

Sekutu dan NICA melancarkan serangan besar-besaran. Kota Medan dikelilingi pertempuran. Perang ini memakan banyak korban dari kedua belah pihak. Kekacauan terjadi di mana-mana. Serdadu Sekutu melakukan pemerkosaan, pengaduan-pengaduan tanpa proses hukum, juga peledakan masjid di jalan Serdang.

Seorang perwira Inggris diculik oleh pemuda Indonesia. Beberapa truk berhasil dihancurkan. Aksi-aksi bersenjata itu lalu dikenal sebagai Pertempuran Medan Area. Setelah itu Medan terbagi dua. Sisi timur yang dekat laut dikuasai Sekutu, sementara sisi timur yang ke arah pedalaman dikuasai Republik. Jalan kereta api dari Pulo Brayan ke Medan menjadi pembatasnya.

Pada bulan April 1946, pemerintah RI di kota Medan terus didesak militer-militer asing itu hingga akhirnya Gubernur Sumatera, Walikota Medan, yang sudah dijabat orang Indonesia ketika itu dan juga petinggi TKR menyingkir ke Pematang Siantar. Laskar-laskar rakyat di berbagai daerah di Sumatera timur terus melancarkan perlawanan terhadap Sekutu meskipun Kota Medan telah diduduki.

Medan menjadi salah satu kota penting bagi NICA dan menjadi ibu kota Negara Sumatera Timur. Sumatera Timur kini sudah berubah nama menjadi Sumatera Utara setelah digabungkan dengan Residen Tapanuli. Sumatera Utara berkembang dan menjadi propinsi terpenting di Indonesia saat ini dan Medan menjadi kota ketiga terbesar di Indonesia.

Demikian sejarah singkat perjuangan kemerdekaan di kota Medan. Banyak pejuang di kota ini yang telah berjasa membebaskan Medan dari penjajahan. Mari kita hargai jasa-jasa pahlawan kita dengan sumbangsih untuk pembangunan kota Medan dan Sumatera Utara tercinta.

Merdeka!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *