Sejarah Jalan Medan Berastagi

KutaKita – Pembukaan jalan Medan Berastagi tidak lepas dengan campur tangan Belanda. Awal Belanda sampai ke kota Medan dan menduduki kota itu hubungan dengan Tanah Karo belum ada. Jalan yang melalui Medan Berastagi dan juga sebaliknya hanyalah jalan setapak. Hubungan perdagangan antara Medan dan Tanah Karo hanya dilakukan dengan menggunakan jasa Perlanja Sira atau Pedagang Garam.

Perlanja Sira inilah yang membawa barang hasil pertanian dari Tanah Karo dan menjualnya dengan cara barter di Medan, Binjai dan Deli Serdang. Hasil pertanian ini kemudian ditukar dengan garam dan barang-barang lain yang dibutuhkan oleh masyarakat Tanah Karo. Perlanja Sira inilah media transportasi ke Tanah Karo tempo doeloe. Selain Perlanja Sira, kuda menjadi alternatif transportasi lain ketika itu. Namun seperti halnya Perlanja Sira, kuda juga harus melewati jalan setapak, melewati hutan dan tebing terjal.

Carel Westenberg, seorang Belanda yang diangkat menjadi Controleur, jabatan setingkat Bupati untuk Batak tahun 1888. Westenberg menulis sebuah laporan tentang perjalanannya pertama kali ke Tanah Karo. Dia pergi bersama Jules Claine seorang pelancong Perancis dan juga teman-teman yang lain.

Perjalanan ini dilakukan pada bulan Maret 1891 ke Tanah Karo yang masih merdeka, belum tersentuh Kolonial Belanda. Mereka menaiki kereta api dari Medan menuju Deli Tua. Setelah berjalan kaki menuju kampung Biru-biru mereka melanjutkan perjalanan ke kampung Pertumbuken. Lalu perjalananan dilanjutkan ke kampung Buluh Awar yang ketika sudah ramai dan menjadi pusat perdagangan. Buluh Awar juga mempunyai Pasar Kuda dimana kuda dari daratan tinggi Karo diperjual-belikan di pasar ini. Barulah mereka berjalan kaki lagi menuju dataran tinggi Karo dan tiba di Cingkem. Mereka menyusuri Cingkem hingga tiba di lereng Deleng (Gunung) Barus.  Akhirnya orang Eropa pertama kali tiba di Tanah Karo pada bulan Maret 1891 setelah berjalan kaki selama berhari-hari.

Awalnya sejarah pembukaan jalan Medan – Berastagi ini, karena peperangan yang terjadi di sekitar perkebunan tembakau Deli di akhir abad 19. Puncaknya terjadi saat perang sunggal bergolak. Tanah rakyat yang dicaplok dan dijadikan perkebunan tembakau Deli menyulut kemarahan. Belanda merasa terancam dan terganggu dengan bisnis mereka yang mulai berkembang ini. Mereka tahu peperangan ini didalangi oleh orang Karo dan Melayu pemilik tanah ulayat yang mereka rampas. Apalagi perang ini juga melibatkan bantuan dari orang-orang Karo dari dataran tinggi yang menamakan diri mereka Laskar Simbisa.

Belanda memutar otak. Mereka harus menjinakkan orang-orang Karo itu. Pemilik perusahaan perkebunan tembakau Deli Maatschappij  JT Cremer meminta Nezerlandsche Zending Genootschap (NZG) untuk mengirim misionaris ke Tanah Karo. Cremer menganggap pendekatan melalui penginjilan mungkin bisa meluluhkan orang-orang Karo untuk tidak memberontak. 

Dikirimlah misionaris pertama bernama Hendrik Kruyt. Untuk menjalankan misinya Hendrik Kruyt mengambil lokasi Buluh Awar sebuah desa di pedalaman Sibolangit. Buluh Awar dipilih karena desa itu paling ramai karena tempat persinggahan para Perlanja Sira dan para pedagang. Setelah Kruyt beberapa misionaris lain datang silih berganti. Buluh Awar semakin berkembang ketika itu.

Pendeta Guillaume salah seorang misionaris NZG mencoba mendekati Kabanjahe dengan maksud menyebarkan agama Kristen. Namun kedatangan misionaris itu tidak disukai laskar pejuang pimpinan Kiras Bangun yang lebih dikenal Pa Garamata. Mereka menganggap kedatangan pendeta ini hanyalah modus dan taktik Belanda untuk menguasai Tanah Karo. Mereka melakukan perlawanan. Pendeta Guillaume diusir dari Kabanjahe.

Operasi militer Belanda ke Tanah karo dimulai pada tanggal 6 September 1904. Pasukan Garamata kalah. Setelah berakhirnya Perang yang dipimpin Pa Garamata itulah maka Kolonial Belanda menguasai dataran tinggi Karo dan terbentuklah pemerintahan yang  dinamakan Onderafdeling Karolanden atau Taneh Karo. 

Sejak itu Belanda mulai berpikir bagaimana membuat jalan untuk meningkatkan transportasi ke dataran tinggi Karo. Belanda melihat potensi Berastagi cocok untuk dijadikan tempat peristirahatan karena iklimnya sangat cocok dengan orang-orang Eropa.

Sebelumnya jalan antara Sembahe ke Sibolangit sepanjang 5 kilometer selesai dibangun pada bulan Oktober 1893. Jalan itu hanya bisa dilalui dengan kereta lembu. Lalu Belanda mengadakan riset dan penelitian terhadap hutan dan perbukitan yang akan dibuka untuk jalan lain. Bukan hanya dengan kereta lembu, Belanda ingin mobil-mobil mereka bisa juga sampai di Berastagi.

Setelah mendapatkan kesimpulan dari hasil penelitiannya Belanda lalu memerintahkan Kuli-kuli untuk membuka hutan dan membangun jalan.

Berselang 3 tahun lamanya jalan lintas itu pun akhirnya selesai. Pada tahun 1907 akhirnya jalan Medan Berastagi bisa beroperasi. Sebagai uji coba, maka JT Cremer Tuan kebun Tembakau Deli yang pernah memerintahkan Misionaris datang ke Tanah Karo membawa mobilnya menuju Berastagi.    

Mobil yang dipakai bermerek SPYKER, mobil yang diproduksi oleh Belanda diprakarsai oleh Jacobus and Hendrik-Jan Spijker yang berlokasi di Amsterdam. JT Cremer berangkat berikut istri dan teman-temannya dengan menggunakan dua mobil. Mereka melakukan perjalanan pertama itu tanggal 28 Februari 1907.

Menurut laporan yang ditulisnya, perjalanan menggunakan mobil saat itu ke Tanah Karo tidak cukup dalam satu hari. Mereka menghadapi tantangan berbahaya. Selain tebing terjal, mereka harus melewati sungai. Perjalanan di Sembahe ketika itu sangat menantang karena masih menggunakan jembatan darurat dan hampir saja mobil mereka terjatuh karena salah satu roda mobil terperosok. Untung saja sang pengendara mobil dengan cekatan menguasai kendaraannya.

Perjalanan mereka harus terhenti. Setelah melewati Bandar Baru, mobil mereka terperosok ke lumpur dan mobil itu mogok. Mereka kembali ke Bandar Baru dan bermalam disana. Perjalanan dilanjutkan keesokan harinya. Mobil yang mogok dibantu derek oleh mobil lain. Para wanita Belanda yang ikut serta di mobil itu dibantu berjalan oleh warga setempat dengan menggunakan tandu. Akhirnya mereka tiba di Kabanjahe dan disambut oleh nyonya van Den Berg, istri seorang Misionaris Belanda yang telah tinggal di Kabanjahe ketika itu. Sibayak Lingga, raja Karo juga menyambut kedatangan rombongan Cremer. Cremer juga bertemu dengan Tokoh-tokoh Adat dan masyarakat Karo.

Sejak itu pula pembangunan jalan Medan Berastagi terus dilakukan. Kendaraan-kendaraan Belanda mulai melalui jalan itu. Seorang Belanda kemudian memprakarsai bus umum untuk pertama kali ke Tanah Karo tahun 1914.  Termasuk Bus Perusahaan Kereta Api Deli, Deli Spoorweg Maatschappij  (DSM) tiba di Berastagi.

Perjalanan ke Tanah Karo semakin mudah sehingga Berastagi semakin berkembang dan menjadi tempat utama untuk berwisata karena letaknya tidak jauh dari Medan. Cuaca dingin menjadi daya tarik kedatangan orang-orang Eropa ke Berastagi.

Pembangunan hotel-hotel dilakukan dengan gaya Eropa modern. Hotel terkenal ketika itu antara lain : Hotel Berastagi, Hotel Pension Maria, hingga Grand Hotel Berastagi yang banyak dikunjungi oleh wisatawan.

Dari jaman Belanda hingga saat ini Berastagi menjadi salah satu tujuan utama wisatawan. Kemajuan Berastagi hingga menjadi Kota Turis tidak terlepas dari jalan lintas yang dibuka oleh pemerintah Kolonial. Jalan lintas ini pula telah membuka jalur transportasi dan perdagangan dari Medan ke Tanah Karo dan juga sebaliknya.

Saat ini jalan Medan Berastagi berkembang pesat. Pelebaran dan pengaspalan terus dilakukan. Namun bencana alam yang selalu memakan korban tidak jarang menjadi berita dan cerita kemuraman jalur lintas antar kabupaten dan propinsi ini.  Semoga suatu saat ada solusi hebat dari pemerintah negeri ini untuk menghindari derita para pelintas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *