Pahlawan Nasional Sumatera Utara

KutaKita Banyak pahlawan yang telah berjuang dan mempertahankan kemerdekaan di Sumatera Utara, yang gugur dan layak mendapat penghormatan tertinggi dari pemerintah republik. Namun menurut data yang tercatat di propinsi Sumatera Utara baru 12 orang yang diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh negeri ini.

Inilah daftar Pahlawan Nasional dari Sumatera Utara.

Sisingamangaraja XII

Sisingamangaraja XII lahir di Bakkara, tanggal 18 Februari 1845. Sisingamangaraja memimpin Perang Batak selama bertahun-tahun di Tapanuli. Akhir dari perjuangan Sisingamangaraja berakhir saat menyingkir ke Dairi. Sisimangaraja gugur saat ditembak Belanda tanggal 17 Juni 1907. Kemudian dimakamkan di Tarutung, Tapanuli Utara. lalu pada tahun 1953 dipindahkan ke Sopasurung Balige oleh Pemerintah Indonesia.

Sisingamangaraja XII diangkat menjadi Pahlawan Nasional dengan penetapan S. K. Presiden No. 590 Tahun 1961, bertanggal 9 November 1961.

Dr. Ferdinand Lumban Tobing

Dr. Ferdinand Lumban Tobing lebih dikenal dengan Dr. F. L. Tobing lahir di Sibuluan, Sibolga, 19 Februari 1899. Dia bekerja sebagai dokter di jaman Kolonial Belanda.


Dr. F.L. Tobing pernah menjabat di beberapa jabatan penting seperti Residen Tapanuli, Menteri Penerangan, Menteri Negara Urusan Transmigrasi, Menteri Urusan Daerah, Menteri Kesehatan dan menjadi Gubernur Sumatera Utara yang ke 2.

Dia wafat di Jakarta, 7 Oktober 1962. Namanya kemudian diabadikan di sebuah Rumah Sakit Umum di Sibolga dan Bandara di Pinangsori, Tapanuli Tengah.

Dr. F.L. Tobing diangkat menjadi Pahlawan Nasional denganpenetapan: S. K. Presiden No. 361 Tahun 1962, bertanggal 17 November 1962.

K. H. Zainul Arifin

K. H. Zainul Arifin Pohan lahir di Barus tanggal 2 September 1909.  Zainul Arifin bergabung  dengan GP Ansor organisasi pemuda di Indonesia yang berhubungan dengan Nahdlatul Ulama (NU).  Dia aktif mengurus Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).

Tanggal 14 Mei 1962, saat salat Idul Adha, Zainul berada di barisan terdepan bersama Presiden Soekarno. Ia tertembak peluru oleh seorang pemberontak DI/TII dalam upaya membunuh Presiden Soekarno. K. H. Zainul Arifin wafat tanggal 2 Maret 1963.                                            

K. H. Zainul Arifin diangkat menjadi Pahlawan Nasional  denganpenetapan S. K. Presiden No. 35 Tahun 1963, bertanggal  4 Maret 1963.    

Mayjen TNI Anm. D. I. Pandjaitan

Mayjen TNI Anumerta Donald Isaac Panjaitanlahir di Balige tanggal 19 Juni 1925. DI Panjaitan menjadi Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) saat peristiwa Gerakan 30 September terjadi. Pada peristiwa itu D.I Panjaitan hendak dibawa pergi, tepat di halaman rumahnya, sang Jenderal ditembak sebutir peluru di bagian kepalanya saat dia sedang berdoa. DI Pandjaitan gugur di tempat. Jenazahnya dibawa paksa ke kawasan Lubang Buaya di Halim oleh PKI.       

D.I. Panjaitan diangkat  sebagai Pahlawan Revolusi berdasarkan Surat Keputusan Presiden nomor III/Koti/Tahun 1965 bertanggal 5 Oktober 1965.     

Tengku Amir Hamzah

Tengku Amir Hamzah  lahir di Binjai tanggal 28 Februari 1911. Dia adalah Sastrawan Indonesia angkatan Pujangga Baru. Setelah proklamasi kemerdekaan, pada 29 Oktober 1945 Hamzah diangkat oleh Gubernur Sumatera sebagai wakil pemerintah Republik Indonesia di Langkat.

Amir Hamzah menjadi korban revolusi yang difitnah sebagai seorang yang bekerja sama dengan Belanda.  Hamzah dikirim ke sebuah perkebunan di Kwala Begumit, sekitar 10 kilometer di luar Binjai. Pada tanggal 20 Maret 1946, Hamzah ditemukan tewas bersama 26 tahanan lainnya.

Tengku Amir Hamzah  diangkat menjadi Pahlawan Nasional denganpenetapan S. K. Presiden No. 106/TK/1975.           

H. Adam Malik

H. Adam Malik Batubara lahir tanggal 22 Juli 1917 di Pematang Siantar. Adam Malik mengawali karirnya sebagai Jurnalis dan Tokoh Pergerakan Kebangsaan. Dia aktif berpolitik.

Adam Malik wafat pada tanggal 5 September 1984 di kota Bandung. Namanya didedikasikan untuk rumah sakit milik pemerintah di kota Medan.

Dia sempat menjadi menteri luar negeri sebelum akhirnya menjadi Wakil Presiden menggantikan Sri Sultan Hamengkubowono IX.  Soeharto menunjuk Adam Malik sebagai Wakil Presiden dalam masa jabatan 1978-1983.

Adam Malik diangkat menjadi Pahlawan Nasional denganpenetapan S. K. Presiden No. 107/TK/1998, bertanggal 6 November 1998.

Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution

Abdul Haris Nasution lahir tanggal 3 Desember 1918 di Desa Hutapungkut, Kotanopan,  Mandailing Natal. Sejak tahun 1945, AH Nasution aktif menjadi tentara di Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Dia pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dan juga pernah menjabat sebagai menteri pertahanan dan keamanan.

AH Nasution merupakan salah satu tokoh TNI AD yang menjadi sasaran dalam peristiwa Gerakan 30 September. Dia selamat dari upaya penculikan itu namun harus kehilangan putrinya Ade Irma Suryani Nasution beserta ajudannya, Lettu Pierre Tendean.

Kiras Bangun (Garamata)

AH Nasution wafat tanggal 6 September 2000 di Jakarta. Jenderal AH Nasution diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia denganpenetapan : S. K.Presiden No. 073/TK/2002, bertanggal 6 November 2002.  

Karena pengaruh perjuangannya melawan Belanda, seluruh Urung (Wilayah) di Tanah Karo mengangkatnya menjadi Pemimpin. Dalam perang Sunggal Kiras Bangun mengirimkan pasukannya untuk membantu rakyat Sunggal melawan Belanda.

Kiras Bangun terkenal dengan gelar Garamata (Si Mata Merah) lahir di desa Batukarang Tanah Karo tahun 1852.

Operasi militer Belanda ke Tanah karo dimulai pada tanggal 6 September 1904. Pasukan Garamata kalah dan Kiras Bangun ditangkap. Awalnya dia dibuang ke Riung Tanah Karo, kemudian bersama kedua anaknya, Kiras Bangun dibuang ke Cipinang Jakarta.

Kiras Bangun wafat 27 November 1942 kemudian dimakamkan di desa kelahirannya Batukarang. Dia diangkat menjadi Pahlawan Nasionaldenganpenetapan S. K. Presiden No. 082/TK/2005, bertanggal 7-11-2005.

Letjen TNI (Purn) Tahi Bonar Simatupang

Letjen Tahi Bonar Simatupang lebih dikenal dengan singkatan T. B. Simatupang lahir di Sidikalang tanggal 28 Januari 1920. Ia juga ikut bergerilya bersama Jenderal Sudirman untuk melawan pasukan Belanda. Selama bergerilya ia diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang (WKSAP). Ia juga mewakili TNI dalam delegasi Republik Indonesia menghadiri Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda.

Letjen TNI (Purn) T. B. Simatupang Wafat  di Jakarta tanggal 1 Januari 1990. Dia diangkat menjadi Pahlawan Nasional denganpenetapan Keputusan Presiden No. 068/TK/2013, bertanggal 6 November 2013.

Letjen TNI (Purn.) Jamin Ginting

Letjen TNI Jamin Ginting lahir tanggal 12 Januari 1921 di Desa Suka kecamatan Tiga Panah Kabupaten Karo.  Dia bergerilya melawan Belanda sampai ke Aceh. Jamin Ginting juga berhasil menumpas pemberontakan Simbolon di Medan pada bulan April 1958. Jamin Ginting menerima perintah dari Jakarta untuk mengambil alih komando Bukit Barisan dan menjadi panglima.

Jamin sempat aktif di bidang politik menjadi anggota DPR. Pemerintah pernah menunjuk Jamin Ginting sebagai Duta Besar di Kanada.

Tanggal 23 Oktober 1974, Djamin Gintings wafat saat masih bertugas sebagai Duta Besar Kanada. Dia diangkat menjadi Pahlawan Nasional denganpenetapan Keputusan Presiden No.115/TK/2014, bertanggal 6 November 2014.

Lafran Pane

Prof. Drs. Lefran Pane lahir di Sipiriok, pada tanggal 12 April 1923. Dia dikenal sebagai salah satu pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Lafran Pane pernah fitnah, dituduh memberontak Jepang, lalu dituntut hukuman mati. Tapi tidak jadi karena pengaruh ayahnya yang sangat disegani di Padang Sidempuan.

Lafran Pane wafat pada 25 Januari 1991 di Yogyakarta. Lafran Pane diangkat sebagai Pahlawan Nasional dengan penetapan Surat Keputusan Presiden Nomor 115/TK/Tahun 2017, Tanggal 6 November 2017.

Mr. Sutan M. Amin Nasution

Mr. Sutan M. Amin Nasution lahir pada tanggal 22 Februari 1904 di Lhoknga, Aceh Besar. Semasa hidup, Amin Nasution pernah menjadi gubernur untuk provinsi berbeda, yakni Sumatera Utara dan Riau.


Beliau memiliki perjuangan mendalam untuk menyelamatkan kedaulatan bangsa dan negara RI saat agresi militer Belanda. Perjuangannya juga tak lepas dari keberhasilannya membangun dan memajukan Propinsi Sumatera Utara dan Riau saat menjadi gubernur dalam suasana yang sangat sulit.

Amin Nasution wafat tanggal 16 April 1993 di Jakarta. Dia diangkat sebagai Pahlawan Nasional dengan penetapan Surat Keputusan Presiden RI Nomor 117/TK/Tahun 2020, tanggal 6 Nopember 2020.

Menurut Website resmi Pemerintah, Indonesia.go,id :

Gelar pahlawan nasional diberikan kepada warga Negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan Negara.

Masih banyak pejuang Sumatera Utara yang layak menjadi Pahlawan Nasional Indonesia. Silahkan tulis nama mereka yang menurut anda layak diberikan gelar Pahlawan Nasional dengan cara menulis komentar dibawah video ini. Semoga pemerintah Indonesia bisa memberikan apresiasi terhadap para pahlawan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *