Jacob Nienhuys Sang Pelopor Tembakau Deli

KutaKita – Kedatangan Jacob Nienhuys pertama kali ke pantai Timur Sumatera atas undangan seorang Arab bernama Said Abdullah Ibnu Umar Bilsagih. Bilsagih adalah ipar dari Sultan Mahmud Perkasa Alam, Sultan Deli yang berkuasa di masa itu. Dia mengawini adik Sultan Deli dan menjadi Multi Kerajaan Deli.

Peran Bilsagih sangat besar saat masuknya Belanda ke Deli. Dia menjadi penengah antara Sultan Deli dan perwakilan Belanda bernama Elisa Netscher. Sultan membuat perjanjian dengan Pemerintah Belanda yang dinamai Acte van Verband, yang ditandatangani dan dipatri cap mohor pada tanggal 22 Agustus 1862.

Said Abdullah Ibnu Umar Bilsagih bergerak cepat. Dia berangkat ke Jawa dan mempengaruhi para pengusaha tembakau disana agar berinvestasi dengan menanam tembakau di Deli. Mereka kemudian tertarik. Dengan menumpang kapal “Josephine” tibalah tuan van der Falk, Eliot dan Jacob Nienhuys di Kuala Deli tanggal 7 Juli 1863.

Setibanya di Deli, mereka mendapat sambutan hangat dari Sultan Deli. Mereka mendapat kontrak lahan untuk menanam tembakau seluas 4000 bahu selama 20 tahun. Konsesi ini tanpa uang sewa di lima tahun pertama dan setelah itu membayar sewa hanya $ 200 setahun.   Lahan pertama yang mereka peroleh adalah di Tanjung Sepassai dekat Labuhan. Awal penanaman tembakau itu mengalami kerugian. Perusahaan yang pertama membiayai penanaman tembakau itu angkat kaki dan kembali ke Jawa.

Namun Nienhuys tidak patah semangat dan menyerah. Dia meminta perusahaan lain yaitu Van den Arend agar membantunya untuk membiayai penanaman tembakau kembali. Keyakinan dan kerja kerasnya membuahkan hasil. Tahun 1864 Nienhuys mengirim contoh tembakau hasil kebunnya ke Rotterdam Belanda untuk diuji kualitasnya. Ternyata daun tembakau itu mendapat sambutan hangat di Eropa karena dianggap berkualitas tinggi untuk bahan Cerutu.

Baca Juga  Pahlawan Nasional Sumatera Utara

Kemudian Nienhuys menerima konsesi pembukaan tanah yang lebih luas lagi dari Sultan Deli.  Lalu dia membuka lahan di Martubung. Karena kekurangan buruh pekerja, dia lalu berangkat ke Penang. Dari hasil perjalanannya itu akhirnya dia bisa memperkerjakan 88 orang Kuli Cina dan 23 orang Melayu di perkebunan baru itu.

Karena perkebunan yang dirintisnya sudah semakin terlihat hasilnya, Nienhuys merasa memerlukan tambahan modal untuk mengolah tanah perkebunan lebih luas lagi. Dia berangkat ke Belanda dan menemui P.W. Janssen seorang pedagang di Amsterdam. Dia berhasil meyakinkan Janssen untuk berinvestasi di Deli. Janssen juga mengajak temannya lain yang bernama Clemen. Akhirnya mereka bertiga sepakat untuk bersama-sama memodali perkebunan tembakau Deli sebesar f. 10.000.

Saat kembali ke Deli, Nienhuys mendapat konsesi baru yang sangat luas dari Sultan Deli. Tanah yang diberikan itu mulai dari kampung Mabar hingga ke Deli Tua. Kontrak diberikan selama 99 tahun. Perkembangan perkebunan baru itu mendapat angin segar saat rekan kerja Nienhuys, P.W. Janssen mendapat pinjaman besar dari bank Nederlandsche Handelmaatschappij di Amsterdam.

Seorang yang bekerja di bank itu bernama J. T. Cremer malah bersemangat menyarankan agar dibentuknya perusahaan tembakau Deli. Perusahaan itu kemudian dibentuk dengan nama “Deli Maatschappij” dengan P.W. Janssen sebagai Direktur. Dari Amsterdam Cremer lalu pindah ke Jakarta dan kemudian pindah lagi ke Deli dan menjadi bagian dari perusahaan baru yang dibentuknya bersama Nienhuys, Janssen dan Clemen. Sejak kedatangan Cremer lah masa suram kedatangan Kuli Kontrak untuk tembakau Deli yang berasal dari Tiongkok, India dan Jawa dimulai.

Seiring berkembangnya perkebunan tembakau Deli, pada tahun 1869 Jacob Nienhuys pindah dari Labuhan ke Medan yang kala itu masih bernama kampung Medan Putri. Dia mendirikan rumahnya dan kantor perkebunan tembakau Deli “Deli Maatschappij” diantara pertemuan sungai Babura dan sungai Deli. Sejak itu pula Medan berkembang menjadi Gementee (Kotapraja).

Baca Juga  Dr. F. L. Tobing – Kisah Pejoeang dari Tapanoeli

Tahun 1870 Jacob Nienhuys memutuskan untuk meninggalkan Medan dan kembali ke Belanda. Perusahaan perkebunan yang dirintisnya kemudian diserahkan ke J.T. Cremer. Nienhuys kemudian tinggal di sebuah Kastil di tengah kota Amsterdam yang dirancang oleh Arsitek Gerlof Salm, yang bertempat di Herengracht 380-382. Sekarang bangunan tersebut menjadi tempat bagi NIOD Institut untuk penelitian Kajian Perang, Holokaus dan Genosida.

Salah satu sumbangan filantropis kemanusiaan, Nienhuys pernah membiayai Maatschappij voor Volkswoningen (Perhimpunan Perumahan Rakyat) di Amsterdam, Belanda.

Dia meninggal dunia tahun 1928 di Amsterdam. Namanya pernah diabadikan menjadi nama jalan di Medan yaitu jalan Nienhuys yang kemudian dirubah menjadi jalan Pulau Pinang di daerah Lapangan Merdeka sekarang.

Tanpa kerja gigih dan ketekunan dari Jacob Nienhuys mungkin perkebunan tembakau Deli tidak pernah ada. Tanpa dia pula Medan yang dulunya hanya perkampungan tidak akan menjadi kota besar seperti saat ini.

Ditulis oleh JOEY BANGUN


SUMBER SEJARAH


Suatu Zaman Gelap di Deli Koeli Kontrak Tempo Doeloe – H. Mohammad Said
Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur – Tengku Luckman Sinar
Sejarah Medan Tempo Doeloe – Tengku Luckman Sinar
Wikipedia


Saksikan videonya disini.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *